Thursday, April 21- 16.23 @ Twister Radio
Tok tok tok tok~
Suara ketukan yang menderu-deru menggetarkan pintu kaca yang memisahkan ruang siaran dan lorong luar. Aku tersenyum lebar memandang sang penyiar, Jendra, yang segera menoleh ke arahku dan memasang tampang sebal sebelum buru-buru menyudahi siarannya. Sore itu dia baru saja selesai memandu segmen 'Coffee Afternoon', yang bertujuan untuk menemani para kawula muda yang kemungkinan besar sedang bermacet-macet ria di jalanan Jakarta yang semakin hari semakin semerawut ini. Suara Jendra -- Rajendra Nasution-- memang bisa dibilang enak didengar dan tipe suara yang kalau didengar sambil menutup mata, langsung membayangkan bahwa pemiliknya berwajah tampan bak Chris Evans. Tetapi ketika membuka mata, well, aku tidak bilang dia jelek. Tapi jelas levelnya di bawah Chris Evans.
Jendra berpamitan pada staff-staff Twister Radio sebelum melangkah keluar menghampiriku. Dia menjitak pelan kepalaku kemudian memandangiku dari atas sampai bawah, seperti melihat sesuatu yang aneh.
"Lo saltum ya hari ini?" celetuk Jendra.
"Hah?", aku langsung menatap pakaian yang kukenakan sekarang. Tampaknya tidak ada yang janggal. Tank-top, bolero, dan short pants merupakan padu padan wajar. "Saltum gimana?"
"Kok gak pake kebaya sih? Hari ini kan hari kartini. Hahahaha", pemuda batak & jawa itu terkekeh keras lantas menghindar dari cubitan mautku - yang sangat dia benci.
Hai. Nama gue Rajendra Nasution. Biasa dipanggil Jendra. Gue seorang penyiar di Twister Radio dan jadi penyiar tetap untuk segmen 'Coffee Afternoon' setiap Selasa, Rabu, Kamis sore. Kerjaan sampingan aja sih, karena gue masih kuliah di Universitas Batavia. Gue suka baca, sama kayak Nay, si bawel yang ada di samping gue sekarang. Kita biasanya suka berburu buku bareng atau ngabisin waktu di Aimee's book kalo lagi nggak ada kerjaan. Gue dan Nay udah sahabatan dari SMP. Banyak banget yang ngira gue dan Nay itu pacaran. Padahal kita pure temenan, bertiga sama Callista juga, pemilik kedai kopi Clicheaulait, tempat selanjutnya yang akan kita tuju setelah ini.
"Lo dari kampus ke sini naek apaan?" Jendra membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan aku masuk --kebiasaan yang selalu ia lakukan dari dulu.
"Naik taksi. Hehehe" aku menjawab sebelum menghempaskan tubuhku ke jok mobil. Wangi parfum Burberry Brit for Men yang menjadi ciri khas sahabatku itupun menyerbu indra penciumanku.
"Gila lo. Nggak takut diculik, terus dijadiin tebusan."
"Ya nggaklah, ngapain juga nyulik gue." aku memasang seatbelt sembari menyalakan radio.
"Wiiih. Kalo tau elo anaknya siapa juga pasti banyak yang mau nyulik elo, neng." Jendra menyalakan mesin mobil dan bersiap melaju menuju Clicheaulait. "Lagian kenapa nggak mau gue jemput aja sih tadi?"
"Males ah. Kelamaan nungguin elo di kampus. Tadi Chia juga udah balik duluan karena ada kerjaan tambahan di Cook & Kiss. Masa gue mesti nunggu sendirian. Lagian kan elo tau gue nggak suka lama-lama di kampus.'" cerocosku.
Jendra tertawa mendengar celotehanku. Ia memasang CD Silverchair dan tak lama kemudian lagu The Greatest View yang menjadi favoritnya berkumandang ke penjuru mobil. "Sharlene Alnaira Danubrata. Ckckck. Lo tuh cantik, feminin, tapi geek banget. Nggak sadar apa cowok-cowok banyak yang mau sama lo. Nggak usah jauh-jauh deh, tuh si Ale saban hari nitip salam mulu buat lo. Gue sampe bosen."
Aku menguap dan mengambil blackberryku untuk mengecek sebuah pesan yang baru saja masuk. "Ah males males. Paling mereka deketin cuma karena nama belakang gue doang."
Danubrata. Siapa yang nggak tau nama ini? Keluarga Danubrata bisa dibilang salah satu nama yang paling tersohor dan dihormati di Indonesia. Papa -- Panji Danubrata-- merupakan pemilik perusahaan gas dan minyak yang bereputasi tinggi di Indonesia dan negara-negara tetangga; Lakhsamana Gas & Oil Company. Sedangkan mama -- Nareswari Jingga Danubrata-- seorang mantan model semasa mudanya, yang kini bergabung dalam komunitas Socialite, juga pemilik sebuah butik terkenal bernama Leticia Boutique. I'm in love with fashion, mungkin karena turunan mamaku. Terkadang aku juga suka membantu kerjaan di butik apabila sedang ada waktu senggang. Tapi jujur saja, itu bukan passion utamaku. Dengan nama belakang itu, sejujurnya aku tidak terlalu nyaman karena aku dituntut untuk menjaga perilaku di depan umum. Oleh karena itu aku lebih suka menyendiri saja, tidak terlalu suka bergaul dengan orang lain. Sahabat dekatku hanya Jendra, Callista, Chia, dan buku. Oh ya, aku lupa menyebutkan kakak laki-lakiku tersayang, Ruby Andromeda Danubrata. Dia berbeda sekali denganku, dia sangat populer. Dan tentu saja, digemari para wanita karena parasnya yang tampan --selain uang pastinya.
"Eh si Callista ngirim bbm nih. Disuruh buruan dateng, dia mau ngenalin pacar barunya."
"Iyee, bilangin ini gue juga udh pol nginjek gasnya. Kayak nggak tau aja jalanan Jakarta. Dari Thamrin ke Pangpol aja bisa 2 jam. Eh, Siapa korban dia kali ini? Udah dapet yang mirip super junior belom?"
Aku terbahak-bahak mendengar ucapan Jendra. Ia benar. Callista sering sekali gonta ganti pacar. Hubungan cintanya paling lama hanya bertahan 3 bulan. Dia sangat menyukai boyband-boyband Korea yang saat ini sedang menjamur di Jakarta, namun sampai detik ini, belum ada satupun dari mereka yang sebelas duabelas dengan artis Korea favoritnya itu.
"Kadang gue heran sama dia, nyari pacar udah kayak nyari ketombe. Cepet banget dapetnya. Lah kita kok dari dulu jomblo terus." Jendra membenarkan letak kacamatanya sembari mengumpat pada sebuah motor yang tiba-tiba menyalip.
"Gue sih emang nggak nyari, dan gue nggak ketombean. Lo kaliii. Si Shalina apa kabar? Bagai punduk merindukan bulan? Hahahaha", aku menyebut nama seorang perempuan yang ditaksir Jendra dari awal kuliah.
"Damn. Hahaha. Shalina udah mau nikah kayaknya. MBA, gilaaa. Eh tapi gue nggak tau sih dinikahin apa nggak. Cuma denger kabar yang beredar aja. Sedih parah sih. Kalo MBA-nya sama gue nggak pake mikir langsung gue kawinin."
"Ah serius lo? Gila. Bener-bener ya jaman sekarang, udah makin banyak aja yang nggak bener. Untung gue terakhir pacaran pas SMA. Belom banyak yang bandel kayak sekarang. Makin males deh gue deket-deket sama cowok." sahutku.
"Lah? Gue? Lo anggep apa?" Jendra menunjuk dada dengan telunjuk kirinya.
"Emang lo cowok?" balasku, sebelum selanjutnya sebuah jeweran mendarat di telinga kananku.
17. 43 @ Clicheaulait.
Aku menunggu dua sahabatku dengan nafas tak beraturan. Sudah tak sabar ingin memperkenalkan pacar baruku ke mereka. Dalam hati aku berdoa semoga dia menjadi pacar terakhirku karena segala yang ada pada dirinya adalah sempurna. Tampan, mapan, gentleman, romantis, dan lain lain lain lain lainnya. Aku tidak berlebihan. Pria yang duduk di depanku ini merupakan pria paling perfect diantara mantan-mantanku sebelumnya. Mungkin kekurangannya hanya satu, dia tidak mirip artis Korea. Hahaha. Tapi aku tidak peduli. Sudah terbayang dalam pikiranku, setahun lagi, atau dua tahun lagi, akan terukir sepasang nama dalam sebuah undangan pernikahan, 'Callista Rais dan....'
"Annyeong!" Aku membuka pintu kedai dan menyapa Callista dengan sapaan khas Korea --kebiasaan yang ditularkan Callista padaku.
Clicheaulait sudah seperti rumah keduaku sehingga aku tidak sungkan apabila teriakanku itu menimbulkan tatapan aneh dari seisi pengunjung.
Callista tersenyum lebar begitu melihatku dan Jendra. Ia memelukku dan melakukan tos ala pemain basket kepada Jendra-- hal yang jarang ia lakukan, biasanya ia akan memeluk Jendra tanpa canggung. Mungkin karena di depannya berdiri seorang pria yang harus kuakui, sangat tampan. Inikah pacar terbaru Callista?
"Kenalin, ini cowok gue. Sayang, ini sahabat aku. Nay dan Jendra."
Pria itu menyodorkan tangannya untuk mengajakku bersalaman. Tatapannya tajam, dan senyumannya... olala. Kenapa hatiku berdegub kencang?
"Nay." aku menyebutkan namaku seraya menyambut uluran tangannya.
Pria itu mengangguk lantas balas menyebut namanya, "Keenan. Keenan Radjasa."
No comments:
Post a Comment