Saturday, April 23 2011- 13.08 @ Leticia Boutique
Sedaripagi aku sudah berada di Leticia untuk membantu mama mengecek stock baju-baju impor yang didatangkan dari Milan dan Paris khusus untuk butik ini. Koleksi pakaian yang dijual oleh mama memang berkualitas tinggi, tidak mengherankan apabila harganya juga selangit dan pembeli yang menjadi pelanggan berasal dari kaum-kaum terpandang. Aku sendiri tidak menolak bila mama memberikanku beberapa helai pakaian butiknya --yang tentunya selalu ia lakukan setiap ada stock baru.
Aku melirik jam tangan dan menyadari bahwa hari sudah siang. Pantas saja perutku sudah mulai rewel. Rencananya aku dan kakakku akan makan siang bersama sementara mama masih ada meeting dengan suppliernya yang berada di Eropa. Sudah dua hari sejak pertemuan terakhirku dengan Jendra, Callista dan pacarnya, Keenan. Ya Keenan Radjasa. Pepatah yang mengatakan bahwa dunia hanya selebar daun kelor, berlaku kali ini. Janitra Radjasa, yang tak lain adalah ibunya Keenan merupakan salah satu pelanggan setia Leticia. Ayahnya adalah pemilik perusahaan rokok terbesar se-Indonesia, Govinda. Aku tidak pernah tau kalau tante Jani mempunyai anak bernama Keenan. Yang aku tau hanya Kenzo Radjasa, yang masih berusia 17 tahun. Callista tampaknya jatuh cinta setengah mati dengan Keenan. Siapa yang tidak menyukai pria super tampan itu? Ah, beruntung sekali sahabatku mendapatkan Keenan sebagai pacarnya.
Tuk. Aku memukul kepalaku sendiri dengan pensil. Ngomong apa sih aku.
"Ruby belum datang ya?" pertanyaan mama membuyarkan lamunanku. Ia sedang sibuk menatap layar komputernya dengan jemari yang tidak berhenti mengetik. Rambut panjangnya digelung ke atas dan sebuah jepit bunga mempermanis tatanan rambutnya. Mama selalu tampil sempurna dimanapun dan kapanpun. Dalam sekali lihat, orang dapat dengan mudah menebak bahwa semasa mudanya, mamaku pastinya bukan orang biasa. Dia memang mantan model terkenal di tahun 1980-an, Nareswari Jingga Wirasena --ketika dia masih belum menyandang nama Danubrata. Walaupun sibuk dengan bisnis butiknya dan kehidupan socialite-nya,mama tidak pernah lupa untuk memberikan kasih sayang dan perhatian pada kedua anaknya.
"Belum, Ma. Mama taulah kebiasaannya Mas Ruby. Ngaret. Apalagi dia dari arah Bintaro." sahutku seraya meraih blackberry untuk menghubungi kakakku itu.
Mama tertawa kecil."Rencana mau makan siang dimana, sayang? Sorry ya mama nggak bisa join. I'm a lil bit hectic today."
"It's okaay mommy."Aku tersenyum, "Kayaknya mau di Convivium deh. Tadi Mas Ruby bilangnya sih lagi pengen red velvet."
"Nggak kejauhan? Emang di daerah Kemang nggak ada red velvet yang enak? Mending kamu makan aja di rumah daripada jauh-jauh ke panglima polim. Dari sini ke rumah cuma 5 menit."
Rumahku berada di kawasan Kemang dan untungnya, Leticia Boutique hanya berjarak sekitar 300km dari rumah sehingga mama tidak perlu menghabiskan waktu di jalan untuk menuju butiknya.
"Hahaha. Masa muter-muter di Kemang mulu. Bosen. Sebentar Ma, aku telf Mas Ruby dulu."
Sebuah lagu Jason Mraz mengalun selama menunggu teleponku dijawab oleh kakakku.
Sedetik.. Dua detik.. Tiga detik.. Empat detik.. Lima detik.. En..
"Yes, darling?" suara riang khas Ruby terdengar di ujung sana,
"Ih, dimanaaa? Lama amat. Udah laper nih.." serbuku.
"Sebentar dong, Sharlene." Dia selalu memanggil nama depanku apabila aku sedang tidak sabar, "I'm on my way, will be there in 10 minutes. Udah selesai bantu mama?"
"Udaaah. Beneran yah 10 menit lagi sampe. Kalo telat, aku mau langsung pulang ke rumah aja."
"Iyaaa. Nyesel lho kalo pulang ke rumah hehe." suara Ruby terdengar menggoda.
"Kenapa?"
Tut. Tut. Tut. Rasa penasaranku harus kutahan karena sambungan telepon yang mendadak terputus.
Aku menggerutu kecil sebelum fokus kembali pada mama yang masih bekerja.
"Ma, " Aku membuka pembicaraan, "Mama kenal Tante Jani, kan?"
"Janitra Radjasa?" kali ini mama mengalihkan perhatiannya dari layar komputer untuk melirikku.
"Iya. Yang suka beli baju di sini. Anaknya ada berapa sih, Ma?"
"Hmm.. setau mama sih ada tiga. Yang pertama perempuan, udah nikah dan sekarang tinggal di Inggris. Terus ada lagi yang paling kecil, siapa ya namanya.. hmm. Ken.. Ken siapaa gitu. Kenzo kalo nggak salah"
"Anak keduanya?" tanyaku, semakin berkonsentrasi dengan cerita mama.
"Nah yang kedua yang mama paling nggak inget. Soalnya nggak tinggal di Jakarta juga. Yang jelas laki-laki, seumuran Ruby.", Mama memperhatikan ekspresi wajahku dengan seksama, "Kenapa sih emangnya? Kok tiba-tiba nanyain anak-anaknya Tante Jani?"
Aku segera mengalihkan perhatianku dengan pura-pura membaca majalah Elle yang tergeletak di meja sampingku, belagak tidak peduli. "Nggak apa-apa, Ma. Cuma penasaran aja karena aku abis liat profilnya Arnold Radjasa di tabloid Mitra. Itu suaminya Tante Jani kan? Pemilik rokok Govinda?"
Mama mengangguk. "Iya. Papamu kalau merokok selalu maunya merk Govinda. Soalnya rokoknya lebih sehat, pakai bahan-bahan verbal. Tapi buat Mama sih, yang namanya rokok dimana-mana nggak ada yang sehat."
Aku menganggukan kepalaku tanda setuju. Aku tidak suka rokok dan selalu membenci asap rokok. Sialnya aku dikelilingi oleh orang-orang yang gemar merokok seperti Papa, Ruby, dan Jendra.
Tidak lama setelah itu orang yang kunantikan akhirnya tiba. Ruby masuk ke dalam butik dengan langkah santai dan senyum penuh tebar pesona ke segala penjuru untuk menarik perhatian pengunjung, yang saat itu memang didominasi oleh wanita-wanita muda seumuranku.
Harus kuakui kakakku itu memang tampan. Wajah asli Indonesia dengan alis tebal dan brewok tipis menghiasi dagunya serta tubuh yang tegap, menjadi idaman para wanita. Kemeja kotak-kotak biru-hitam dengan kaos putih yang dikenakannya juga menambah tingkat kegantengannya saat itu.
"Hai, Ma" Ruby menghampiri Mama dan memberinya kecupan singkat di pipi.
"Hai sayang. Mama nggak ikutan dulu ya sekarang. Kerjaan lagi banyak yang harus dihandle."
"Oke. But dont forget to lunch Mrs. Danubrata"
"Don't worry, sayang." Mama tersenyum, "Yaudah sana buruan pergi makan. Nay udah uring-uringan daritadi kelamaan nungguin kamu."
"Oke Ma. Aku pergi dulu ya." Ruby otomatis merangkul bahuku dan segera melangkah keluar menuju mobilnya. Aku balas merangkul pinggangnya selayaknya orang pacaran. Jika kami bukan kakak-beradik, banyak yang bilang kami cocok menjadi couple karena kami sering beradegan mesra di depan umum. Bahkan aku juga sering dijadikan tumbal untuk menghindari cewek-cewek yang mengejarnya dengan berpura-pura menjadi pacarnya. Bisa dikatakan, kami kakak beradik yang sangat kompak.
"Soooo, where are we going?" Ruby menginjak gas dan mobilpun mulai melaju.
"I guess you're craving for some red velvets like now? Is Convivium the best answer?"
"You're indeed my little sister." Ruby memberikan sebuah jempol padaku.
No comments:
Post a Comment